Adab-adab Ikhtilaf


Robi Rusman | 2017-12-21, 16:47:55 WIB | 158 Views

Islam telah meletakkan sendi-sendi adab yang tinggi bagi seorang muslim yang berjalan diatas manhaj Sunnah, dalam pergaulannya bersama saudara-saudaranya ketika berselisih faham dengan mereka dalam masalah-masalah ijtihadiyah. Cukuplah kiranya, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pembawa rahmat dan petunjuk. “Artinya : Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia”. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam ‘Adabul Mufrad’ dan Imam Ahmad) Di antara adab-adab itu ialah :

Pertama: Lapang dada menerima kritik yang sampai kepada anda untuk membetulkan kesalahan, dan hendaklah anda ketahui bahwa ini adalah nasehat yang dihadiahkan oleh saudara seiman anda. Ketahuilah ! Bahwa penolakan anda terhadap kebenaran dan kemarahan anda karena pembelaan terhadap diri adalah kesombongan -A’aadzanallah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Artinya : Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain” (Hadits Riwayat Muslim).

Kedua: Hendaklah Memilih Ucapan Yang Terbaik dan Terbagus Dalam Berdiskusi Dengan Sesama Saudara Muslim. Allah berfirman yang artinya: "Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (Al-Baqarah : 83). Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: "Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dibanding akhlaq yang baik, dan sesungguhnya Allah murka kepada orang yang keji dan jelek (akhlaqnya)”. (Hadits Riwayat Tirmidzi).

Ketiga: Hendaklah diskusi yang dilakukan terhadap saudara sesama muslim, dengan cara-cara yang bagus untuk menuju suatu yang lebih lurus. Yang menjadi motif dalam berdiskusi hendaklah kebenaran, bukan untuk membela hawa nafsu yang sering memerintahkan pada kejelekan. Akhlak ketika berbicara terletak pada keikhlasan. Jika diskusi (tukar fikiran) sampai ketingkat adu mulut, maka katakanlah: “salaam/selamat berpisah !” dan bacakanlah kepadanya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: "Saya adalah pemimpin di sebuah rumah di pelataran sorga bagi orang yang meninggalkan adu mulut meskipun ia benar” (Hadits Riwayat Abu Daud dari Abu Umamah al-Bahily)

Akhirnya melalui penjelasan ini kita dapat mengambil beberapa kesimpulan bahwa: Pertama, Ikhtilaf meskipun ia sudah menjadi perkara yang ditakdirkan oleh Allah akan tetapi wajib bagi kita untuk menjauhinya dan tidak punya keinginan untuk berikhtilaf pada suatu yag boleh selama kita masih ada jalan untuk menghindarinya. Kedua,Perkara-perkara yang diperbolehkan ijtihad padanya, memiliki beberapa syarat dan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh ilmu dan keikhlasan bukan diatur oleh perkiraan dan kemauan hawa nafsu. Ketiga, Ahlu Sunnah memiliki manhaj dalam memahami ikhtilaf yang diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Diantara adab-adabnya adalah mengikuti akhlak para salaf shalih dalam pergaulan dengan sesama mereka ketika terjadi ikhtilaf. Keempat, Tidak boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menuduh saudaranya memisahkan diri dari manhaj Ahlus Sunnah kecuali berdasarkan ilmu dan keadilan, bukan berdasarkan kebodohan dan kezhaliman. Kelima, Tidak mencampur adukkan antara masalah-masalah ijtihadiyah dengan masalah iftiraq (perpecahan) demikian juga tidak boleh mencampur-adukkan antara orang yang membuat bid’ah juz’iyah dengan orang yang meninggalkan sunnah dengan bid’ah kulliyah.



  Post Terkait


Keutamaan Shalat Malam

Keutamaan Shalat Malam

Sesungguhnya di antara amal ibadah yang paling...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik