Membina Persatuan dan Kesatuan


Robi Rusman | 2017-12-21, 16:47:35 WIB | 434 Views

Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial atau zoon politicon. Ini berarti bahwa manusia itu tidak dapat hidup sendirian, harus bersama manusia lain. Manusia itu sejak lahir dari rahim ibunya sampai dia dimasukkan ke lubang lahat tetap membutuhkan manusia lain. Justru itu manusia cenderung untuk berkumpul. Berkumpul ini ada kalanya secara permanen dan adakalanya insidentil. Yang insidentil terbentuk bila ada suatu kejadian atau insident, seperti kecelakaan, kebakaran, kematian, perkawinan dan sebagainya. Yang permanen seperti rumah tangga, keluarga, RT, RW, Desa, Kelurahan sampai ke negara dan seterusnya. Masyarakat permanen inilah yang kita maksud dalam khutbah kita ini.

Di zaman ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini manusia sudah dapat memperpendek waktu jarak tempuh antara dua tempat yang berjauhan. Bahkan manusia sekarang sudah dapat mencapai bulan hanya dengan beberapa hari dan beberapa malam saja dari bumi ini. Tetapi anehnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sangat sulit untuk mendekat hati antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Untuk ini kita selaku seorang Muslim jangan lari dari petunjuk Allah SWT. Kita yakin bahwa dengan ajaran agama islam insya Allah dapat menyatukan hati manusia.

Berpegang teguhlah kamu semuanya pada agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai (Ali Imran, 103)

Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa persatuan dan kesatuan tidaklah tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dibina, harus dipupuk dan dikembangkan dalam masyarakat di tiap-tiap tingkat, baik tingkat rumah tangga, keluarga, RT, RW dan seterusnya dengan berpedoman pada ajaran agama islam. Al-qur’an dan hadits sudah memberi petunjuk bagaimana membina persatuan dan kesatuan di rumah tangga, keluarga dan seterusnya.

Dalam rumah tangga muslim mengajarkan bahwa laki-laki lah yang menjadi pelindung bagi wanita (Isteri), karena Allah telah memberi kelebihan sebahagiaan mereka dari yang lain dan laki-laki telah memberi nafkah dari hartanya. Firman Allah dalam Surat Annisa ayat 34 yang artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Kalau peraturan ini diikuti, insya Allah rumah tangga akan rukun, damai, persatuan rumah tangga akan terbina walaupun sang istri adalah seorang wanita karir. Bila anak-anak melihat kerukunan ibu bapak nya, mereka akan patuh dan taat kepada orang tua mereka. Mereka akan betah tinggal bersama orang tua. Lain hal nya bila mereka melihat orang tua nya cekcok terus sepanjang hari, mereka merasa bosan tinggal bersama orang tua. Kalau mereka tinggal di kota, anak-anak itu akan meninggalkan rumah orang tua nya menjadi anak gelandangan.

Hampir semua jamaah yang hadir ini adalah kepala keluarga. Kami merasa bahwa pesan yang akan disampaikan melalui khutbah ini mengenai sasaran yang tepat.

Marilah kita membina persatuan dan kesatuan mulai dari rumah tangga kita masing-masing. Insya Allah, bila persatuan dan kesatuan di rumah tangga kita sudah terbina insya Allah persatuan dan kesatuan dalam keluarga kita ikut terbina. Demikian pula seterusnya. Bila persatuan dan kesatuan dalam semua keluarga sudah terbina baik, insya Allah persatuan dan kesatuan dalam satu RT sudah terbentuk pula dan begitulah seterusnya.

Persatuan dan kesatuan sangat dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat, baik masyarakat dalam skala besar maupun dalam skala kecil.

Dalam budaya kita ada semboyan berbunyi antara lain: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini menunjukkan bahwa persatuan dan kesatuan itu sudah merupakan budaya bangsa kita. Buktinya dapat kita lihat saat berperang untuk merebutkan kemerdekaan diwaktu zaman penjajahan dulu. Berkat persatuan dan kesatuan kita dapat mengalahkan tentara sekutu, NICA dan Jepang yang mereka pada waktu itu menggunakan senjata yang lengkap dan modern menurut ukuran waktu itu sedangkan  Rakyat Indonesia menggunakan pedang dan bambu runcing.

Dizaman sekarang banyak hal dalam kehidupan sehari-hari yang membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk mengatasinya. Di bidang agama misalnya, kita butuh rumah ibadah dengan bangunan yang permanen, indah, besar dan lengkap dengan segala fasiltas yang canggih, juga perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhan jamaah. Di bidang olahraga demikian pula, anak-anak dan pemuda kita membutuhkan sarana olahraga dengan segala fasilitasnya.

Yang paling penting kita ingat bahwa sekarang ini akibat dari kita salah pakai, salah dalam mengurus sumber daya alam kita, maka sering kali terjadi bencana alam. Memang pemerintah akan memberi bantuan bencana alam, tetapi untuk penanggulangan pertama harus dari masyarakat itu sendiri, baik berupa materil atau tenaga manusia. Semua ini butuh persatuan dan kesatuan. Justru itu marilah kita membina, memupuk dan mengembangkan mental/jiwa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat kita menuju keridhaan Allah SWT, agar negara kita mencapai martabat BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GAFUR.

Tulisan: Drs. H. A. Kadir Yasin (Alm)



  Post Terkait


Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat

Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan...

Ketangguhan Hidup

Ketangguhan Hidup

Dan sampaikanlah berita gembira kepada...

Adab-adab Ikhtilaf

Adab-adab Ikhtilaf

Islam telah meletakkan sendi-sendi adab yang...

Keutamaan Shalat Malam

Keutamaan Shalat Malam

Sesungguhnya di antara amal ibadah yang paling...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik