Perang di Renah Manjuto, Awal perjuangan Rakyat Kerinci Melawan Belanda

Perang di Renah Manjuto


Robi Rusman | 2018-02-21, 15:30:37 WIB | 224 Views

Keberhasilan Depati Parbo dalam memukul mundur pasukan Belanda tersebar luas dikalangaan para hulubalang se-alam Kerinci, nama besar dan keberanian Depati Parbo menjadi sumber inspirasi para hulubalang dan pejuang se-alam Kerinci untuk bersatu berjuang bersama Depati Parbo untuk mengusir Imprealis Belanda. Para hulubal­ang menyadari bahwa untuk menghadapi musuh yang jumlahnya besar dengan persenjataan lengkap tidak ada jalan lain kecuali bersatu padu, peristiwa pertempuran di Renah Menjuto merupakan pengalaman yang paling berharga bagi para pejuang untuk melanjutkan pertempuran melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

Pertempuran di kawasan Renah Manjuto dalam catatan sejarah perjuangan rakyat kerinci dalam menghadapi imprealis Belanda tercatat sebagai awal perjuangan rakyat kerinci mengangkat senjata dalam menghadapi imprealis Belanda. Pasukan belanda yang bermarkas di Muko-muko dengan bantuan Belanda yang berada di Indrapura dengan kekuatan 120 orang serdadunya yang dipimpin Kapten Bolmar memasuki kubu pertahanan yang dibangun Belanda sebelah utara Renah Manjuto. Kabar kedatangan Belanda yang telah memasuki Renah Manjuto didengar oleh para hulubalang dan tokoh adat di daerah lempur dan Lolo, dengan semangat anti penjajah para hulubalang yang hanya berjumlah 12 orang berjaga-jaga di Renah Manjuto mengintai kedatangan serdadu Belanda, sebelumnya pihak belanda pernah membangun pilar-pilar dan Pos untuk memantau dan bertahan di Renah Manjuto, pilar dan pos ini telah dihancurkan oleh para pejuang di Lolo dan Lempur yang dipimpin oleh Depati Parbo.

Baca Juga: Perjuangan Rakyat Kerinci melawan Belanda

Panglima Perang Depati Parbo membuat kesepakatan dengan Depati Agung dari Lempur untuk mempersiapkan para Hulubalang untuk menghadapi dan melakukan perlawanan hingga tetes darah penghabisan melawan Belanda yang nekad memasuki wilayah Adat Kerinci, Depati Parbo memimpin langsung penyerangan menghadapi serdadu Belanda yang jumlahnya tidak berimbang, Belanda mengirimkan 120 serdadu yang dilengkapi dengan persenjataan modern, sementara dilain pihak Depati Parbo hanya memiliki 12 orang Hulubalang tangguh.

Perjalanan yang cukup melelahkan melewati hutan belantara yang lebat serta tantangan alam yang keras tidak menyurutkan tekad dan semangat Depati Parbo dan para Hulubalang, saat berisitirahat karena kelelahan dan tanpa diduga pasukan Belanda telah sampai di lokasi yang sama, melihat kehadiran ratusan serdadu Belanda, para Hulubalang yang telah terkepung oleh pasukan serdadu Belanda melakukan perlawanan yang gigih, 50 orang serdadu Belanda termasuk beberapa orang opsir dan Perwira Belanda tewas mengenaskan bersimbah darah ditikam keris para Hulubalang, 2 orang Hulubalang ikut tewas ditembak pasukan Belanda. Dalam keadaan kritis dan terdesak Panglima Perang Depati Parbo menunjukkan watak kejuangan yang kental. meski dengan hanya sebilah keris Depati Parbo mampu memukul mundur pasukan Belanda yang telah tercerai-berai menuju Ipuh tempat markas induk pasuk­kan serdadu Belanda, Depati Parbo yang disebut-sebut memiliki ilmu kebatinan yang tinggi berhasil menewaskan puluhan serdadu Belanda, pertempuran di Renah Manjuto berlangsung selama 3 hari.

Bagi Belanda kekalahan di RenahMenjuto merupaan tamparan keras yang sangat memalukan, 12 orang hulubalang mampu menewaskan 50 orang Belanda dan mampu memukul mundur 70 orang serdadu Belanda yang bersenjata lengkap. Kekalahan telak ini menbuat pihak Belanda berpikir ulang untuk menerobos benteng pertahanan rakyat dan pejuang alam Kerinci, ternyata tidak mudah bagi Belanda untuk memasuki dan menjajah bumi alam Kerinci. Pengalaman Renah Manjuto kembali dievaluasi, para pemimpin tentara Belanda kembali melakukan perencanaan yang lebih matang dan menyusun kekuataan untuk kembali melanjutkan pertempuran menghadapi para Hulubalang Alam Kerinci yang tungguh.

Sejak pertempuran di Renah Manjuto terjadi, maka selama 4 bulan Belanda melakukan persiapan untuk melakukan penyerangan, Guber­nur Jenderal Van Meues yang berkedudukan di Batavia, mengirim surat kepada Gubernur J.Valot di Padang. Surat tersebut diteruskan kepada Asisten Residen J.Engel di Painan. Dari Painan surat dari Gu­bernur Jenderal Van Meues diteruskan kembali oleh J.Engel kepada Komendur H.K.Manupasha di Indrapura, selanjutnya surat tersebut diberikan pula kepada Tuanku Regen Indrapura, bernama Sutan Rusli Gelar Mohamadsyah.

Isi surat itu pada intinya adalah agar Tuanku Regen, menganjurkan kepada rakyat Kerinci, terutama kepada para Depati selaku penguasa di daerah atau dusun-dusun itu agar menerima kehadiran bangsa Belanda dengan cara baik baik oleh rakyat Kerinci. Belanda dengan taktik bujuk rayu dan tipu muslihat menjanjikan bila Belanda diterima dengan baik oleh penduduk Alam Kerinci, maka hak-hak kesultanan Tuanku Regen akan dikembalikan, bahkan Belanda menjanjikan akan membangun sebuah Istana untuk Sultan Mohamadsyah di Kerinci, bahkan Belanda mengiming-imingi Tuanku Regen akan memperluas Pemerintahan Sultan meliputi daerah Alam Kerinci sampai ke daerah Bandar Sepuluh, dan semua hasil Negeri dan hutan, laut serta sawah akan diberikan kepada Sultan, serta Belanda juga mengobral Janji akan memberi gaji Sultan sebesar. F.2000,-setiap bulan.

Namun Janji dan bujuk rayuan Belanda tidak mampu menggoyahkan kesetian Sutan Rusli Gelar Mohamadsyah, bahkan beliau sempat naik pitam dan dengan suara lantang Sutan Rusli gelar Mohamadsyah mengatakan “Sekali–kali saya tidak akan mengakui Alam Kerinci dimasuki Belanda, sebab nenek moyang saya dan nenek moyang orang Kerinci telah mengikat janji dan telah bersumpah di Bukit Sitinjau Laut, bahwa tidak boleh menohok kawan seiring, atau menggunting dalam lipatan, dengan pengertian tidak boleh mengkhinati perjanjian itu. Dan perjanjian tersebut belum diubah sampai sekarang, bahkan tidak pernah berubah untuk selama lamanya.

Dengan penuh rasa kecewa, Asisten Residen J.Enggel melaporkan hasil penolakkan Sutan Rusli Gelar Mohamadsyah kepada Gubernur Jenderal di Batavia dan Gubenrur J. Valot di Padang. Tidak puas atas laporan yang disampaikan oleh bawahannya, maka Gubernur Jenderal pada bulan Oktober 1902 kembali memerintahkan Tuanku Regen melakukan tugasnya ke Kerinci, dengan sebuah ancaman jika Tuanku menolak perintah, maka Belanda akan memberi sangsi hukuman dibuang ke Ternate bersama seluruh keluarganya. Ancaman itu diikuti dengan berlabuhnya Kapal Perang “Kondar” di Mauara Sakai (sebuah Pelabuhan Samudera zaman Belanda di Indrapura).

Mendapat ancaman itu, maka Tuanku Regen mengutus Putranya bernama Sultan Iradat bersama 17 orang Hulubalang untuk menemui langsung para Depati di Alam Kerinci, dengan menempuh perjalanan jalan kaki sepanjang 97 Km dan memakan waktu 5 hari perjalanan dari Inderapura. Setelah sampai di Kerinci, perjalanan diteruskan hingga ke Rawang. Pada masa itu sudah menjadi sebuah tradisi bagi pemangku adat di alam Kerinci untuk melakukan penyambutan secara kebesaran adat apabila ada kunjungan pembesar yang datang baik dari Minangkabau, Indrapura maupun dari Jambi. Demikian juga dengan Sultan Iradat dan 17 orang Hulubalang dari Indrapura juga disambut secara kebesaran adat oleh Depati Empat Delapan Helai Kain di Hamparan Besar tanah Rawang dengan mengibarkan bendera adat disepanjang jalan yang dilalui serta mempersembahkan aneka kesenian dan kebu­dayaan alam Kerinci.

Selesai acara penyambutan yang didahului dengan ‘Perno’ adat, akhirnya para Depati mempersilahkan utusan Indrapura untuk me­nyampaikan maksud dan tujuan datang ke alam Kerinci, dan para utusan Tuanku Regen menyampaikan pesan dari Pemerintah Belanda berikut dengan ancaman yang disampaikan Belanda terhadap Tuanku Regen. Setelah mendengar dengan cermat dan seksama isi pesan yang disampaikan oleh Belanda melalui utusan tuanku Regen,akhirnya dengan kemufakatan dan kesepakatan bersama secara adat, para Depati menanggapi pesan itu dengan menyampaikan kembali jawaban “Pesan telah kami terima, tetapi kami tidak akan membiarkan Belaanda datang dan menjajah tanah Kerinci ini”. Demikian jawaban dari para Depati Empat Delapan Helai Kain, yang bertekad untuk mempertahankan daerah Kerinci sampai tetes darah penghabisan. Depati meminta agar para utusan itu menyampaikan tekad tersebut kepada Tuanku Regen, selaku sahabat yang telah terbina dan terjalin sejak zaman nenek moyang.

Akhirnya Tuanku Regen menyampaikan tekad itu kepada pihak Belanda di Batavia dan Padang, pihak Belanda yang menerima kebu­latan Tekad itu dengan licik kembali mengatur siasat setelah terlebih dahulu mempelajari pengalaman pahit bertempur di Renah Manjuto bulan Mei 1902. Belanda dengan strategi tidak lagi menyerang Kerinci dari satu jurusan tetapi melakukan serangan dari tiga jurusan, yakni dari  Muko-muko, dari Indrapura dan dari Bangko. Dari Muko muko tidak lagi melewati Renah Menjuto akan tetapi dialihkan melewati Serampas-Sungai Tenang.

Menurut Belanda pasukan dikerahkan dari Bangko dengan pertim­bangan karena perlawanan Pejuang Jambi Sultan Thaha telah mulai men­gendur. Serdadu Belanda yang berada di Indrapura belum memahami peta wilayah /jalan menuju Kerinci. Belanda kembali menggunakan akal liciknya dengan memperalat Tuanku Regen, sahabat rakyat Kerinci sendiri. Dibawah ancaman dan dengan sangat terpaksa Tuanku Regen ikut bersama rombongan serdadu Belanda menuju Kerinci, pada dasarnya Sultan itu juga tidak mengatahui peta dan jalan untuk memasuki Alam Kerinci,Tuanku Regen yang dalam posisi serba salah akihirnya memilih cara dengan mengundang melalui surat yang ditujukan kepada para Depati Empat Delapan Helai kain,Tuanku Regen mengundang para De­pati untuk mengambil garam secara gratis sebagai tanda persahabatan diantara mereka.

Para Depati yang menerima surat itu menyambut baik kedatangan surat dari seorang sahabat, apalagi mereka akan mendapat hadiah garam dan kebutuhan lainnya secara cuma cuma. Para depati akhirnya sepakat mengutus 3 orang Depati untuk memenuhi undangan Tuanku Regen, sedangkan depati depati yang lain tidak dapat memenuhi undangan dengan alasan mengantispasi jika ada serangan dari pihak Belanda. Utusan para Depati yang datang memenuhi undangan Tuanku Regen adalah Depati Sirah Mato dari Seleman, Depati Terawang Lidah dari Rawang dan Depati Sungai Penuh dari Sungai Penuh. Setelah beramah tamah dan menerima hadiah hadiah dari Tuanku Regen yang bernama Sultan Rusli gelar Mohamadsyah, maka ketiga orang Depati bersama rombongan pengiring kembali pulang ke Kerinci. Saat ketiga orang Depati kembali ke Alam Kerinci, dibelakangnya secara diam-diam pasukkan serdadu Belanda,Belanda pun ikut memaksa Tuanku Regen ikut ke Kerinci. Meski dalam hati kecil Tuanku Regen memberontak, namun Tuanku tak tega melihat sahabatnya penduduk di Kerinci diserang Belanda, dan dengan dibawah ancaman akhirnya Tuanku Regen terpaksa mengikuti kehendak Belanda. Di Daerah Tapan saat sedaang istirahat, secara diam-diam Tuanku Regen menyuruh dua orang pedagang Kerinci untuk mendahului pasukkan Belanda dan menyampaikan pesan supaya membiarkan Belanda memasuki Kerinci, setelah memasuki wilayah Kerinci baru Belanda dikepung bersama sama dari semua jurusan. Namun pesan itu tidak pernah sampai karena Belanda memerintahkan agar para pedagang berangkat bersama sama menuju Kerinci, mereka digunakan sebagai penunjuk jalan dan dimanfaatkan sebagai tameng alat pertahanan Belanda jika terjadi serangan secara tiba tiba,Belanda juga khawatir dan takut pedagang Kerinci itu akan membocorkan rencana serangan Belanda terhadap penduduk Kerinci.

Di daerah Koto Limau Sering sekitar 17 Km sebelah barat Sungai Penuh, pasukan Belanda mendapat gempuran sangat hebat dari hulubalang hulubalang dan pejuang Kerinci. Dalam pertempuran hebat itu banyak korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Pada saat itu pihak Belanda sudah merasa kewalahan dalam menghadapi gempuran pejuang Kerinci, dan dalam keadaan darurat tiba tiba secara sangat ter­paksa Tuanku Regen muncul mengibarkan Bendera sebagai isyarat agar pertempuran diakhiri, melihat Tuanku Regen muncul secara mendadak membuat pejuang Kerinci menghentikan serangan terhadap Belanda. Dengan pertimbangan bahwa yang mengibarkan Bendera dan meminta menghentikan pertempuran adalah seorang sahabat, maka pejuang Kerinci secara spontan menghentikan serangan, para pejuang teringat pada perjanjian di Bukit Sitinjau laut bahwa antara Kerinci, Indrapura dan Jambi harus menjunjung tinggi sebuah perjanjian persahabatan dan tidak boleh dikhianati. Merasa berhasil memperalat Tuanku Regen, Belanda dengan leluasa melanjutkan perjalanan menuju Sekungkung,kedatangan Belanda disambut kegigihan para pejuang dan rakyat. Akan tetapi perjuangan itu dapat dipatahkan oleh Belanda, serangan selanjutnya diarahkan ke Belui, Kemantan, Koto Lanang dan berakhir di Rawang. Selanjutnya di Hamparan Besar tanah Rawang dijadikan sebagai Markas pertahanan Belanda. Penyerangan dilanjutkan ke Siulak, rakyat Siulak dengan gigih berusaha menghadang ekpansi Belanda, namun mereka kalah senjata.

Di daerah Kerinci bagian Hulu tercatat nama nama pejuang antara lain H.A.Rahman dan H.Mahmud di Kemantan,Haji Sutan Taha Rio Bidi dan Imam berkat dari Belui,Depati Mat Syarif dari Sekungkung. H.M.Yunus, H.Bagindo Sutan Depati Kebalo Sembah.H. Manin Depati Negaro Negeri, Ijung Pajina dan H.Muhamad dari Semurup.

Setelah berhasil melumpuhkan perlawanan rakyat di bagian hulu Kerinci, maka pihak Belanda melanjutkan serangan ke daerah Kerinci Hilir. Di daerah Hiang para depati dan rakyat membuat Benteng Per­tahanan dari Bambu. Dan di daerah ini pejuang Kerinci di pimpin oleh H.Siam Depati Atur Bumi, sementara H.Sudin pimpinan Hulubalang dari Tanjung Tanah bersama 20 orang pasukan Hulubalang ditugaskan untuk mengintai musuh di sepanjang Sungai Batang Sangkir, sebelum memasuki wilayah Adat Hiang. Belanda dengan menggunakan perahu menyusuri Sungai Batang Sangkir, didaerah ini pertempuran berlangsung dengan sengit, sejumlah korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Na­mun karena kekuatan tidak seimbang maka pasukan H.Sudin tinggal 12 orang dan terpaksa mundur ke Hiang dan bergabung dengan pasukan H.Siam. Belanda berhasil menghancurkan dan menembus benteng bambu di Hiang. Demi melihat Benteng behasil dimasuki Belanda maka pasukan H.Siam memilih mundur ke Sanggaran Agung, sementara pa­sukan Belanda mendapat tambahan serdadu dan persenjataan dari arah Temiai sehingga bisa terus mendesak pejuang yang terus melakukan perlawanan. Pasukan serdadu Belanda berhasil menduduki Sanggaran Agung dan menjadikan Sanggaran Agung sebagai Markas Besarnya untuk wilayah alam Kerinci. Dan dari Sanggaran Agung inilah Belanda mengatur strategi dan berhasil menaklukkan daerah daerah disekeliling Danau Kerinci seperti Tanjung Batu, Pengasi dan Jujun.

Dikutip dari Buku Sejarah Keb-Alam-Kerinci



  Post Terkait


Perjuangan Rakyat Kerinci

Perjuangan Rakyat Kerinci

Kerinci sepanjang sejarah dikenal sebagai daerah...

Upacara Sembah Muntaing

Upacara Sembah Muntaing

Berbicara tentang kerinci memang tak ada habisnya...

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Kerinci merupakan salah satu pusat peradaban...

Tabuh Larangan

Tabuh Larangan

Kerinci sejak zaman dahulu dikenal dengan...

Air Terjun Pancaro Rayo

Air Terjun Pancaro Rayo

Memang wajar jika Kerinci dijuluki sebagai negeri...

Danau Duo

Danau Duo

Danau Kerinci, Danau kaco, Danau Lingkat, masih...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik