Perjuangan Rakyat Kerinci Melawan Belanda dipimpin Depati Parbo

Perjuangan Rakyat Kerinci

Keterangan Gambar : Foto By: http://tasman1959.blogspot.co.id



Robi Rusman | 2018-02-19, 16:43:44 WIB | 621 Views

Kerinci sepanjang sejarah dikenal sebagai daerah yang damai dan tenang, kehidupan masyarakatnya yang harmonis ditandai dengan adanya hubungan diplomasi dengan kerajaan Melayu jambi dan Singasari Majapahit di  Pulau Jawa, dan Kerinci sejak 450 Tahun yang silam telah menjalin hubungan dengan indrapura. Bukti dalam ‘Tambo Kerinci’ menyebutkan bahwa sekitar 450 Tahun yang silam, Sultan Permansyah dari Indrapura pernah melakukan perang terbuka dengan Belanda, pada waktu itu Sultan Permansyah mengundang Rajo Mudo dari Kerinci untuk membantu Indrapura yang berperang dan bertempur selama 9 bulan, bantuan yang diberikan Rajo Mudo membuat penjajah Belanda mengundurkan diri meninggalkan Indrapura, kemudian diganti oleh inggris dari Bengkulu. Ini menunjukkan suku Kerinci telah menjalin hubungan baik dengan daerah luar alam kerinci.

Bukti lain yang terdapat dalam tulisan yang ada dalam ‘Tambo’ disebutkan bawa para pemimpin dan rakyat Suku Kerinci telah menjalin hubungan erat dengan kerajaan Jambi, bukti adanya hubungan yang baik itu dapat dilihat dalam Surat Pangeran Suria Karta negara (1100 H). surat Pangeran Suta Wijaya (1116H), Surat Pangeran Suria Kusuma dan Surat Pangeran Rata, Surat Sultan Ahmad Badarudin, Surat Pangeran Citra Pusta (1340H), Surat Pengeran Temenggung Mangku Negara dan beberapa surat lainnya yang bersal dari pemerintahan kerajaan jambi.

Perlawanan rakyat Kerinci melawan kolonial belanda masih menjadi tema sejarah lokal dalam penulisan sejarah Indonesia. Dalam peristiwa lokal itu terdapat beberapa episode terkait bagaimana upaya Belanda merebut kuasa Kerinci dari tangan penguasa lokal. Satu diantaranya adalah Depati Parbo. Nama tersebut dianggap sebagai pengganggu oleh Belanda dalam rangka menanamkan pengaruh mereka di pedalaman sumatera tengah khususnya di Bukit Barisan.

Kerinci yang juga kaya dengan hasil pertanian dan perkebunan melimpah, kesuburan tanah dan panorama alamnya yang mempesona mengundang niat Belanda untuk menguasai bumi Kerinci. Awal tahun 1900 penjajah Belanda dengan balatentaranya dari wilayah Muko-Muko mengirimkan pasukannya berpatroli di bukit Sitinjau Laut. Di Kawasan Puncak Gunung Raya mendirikan pesanggrahan dan memasang tanda sebagai peringatan dan pemeberitahuan bahwa Belanda telah memasuki alam kerinci.

Melihat sikap balatentara Belanda yang mulai mengibarkan bendera perang dan menunujukkan iktikad tidak baik membuat rakyat kerinci menjadi marah, (Depati H. Sutan Kari, BA) para Depati-depati, Hulubalang dan rakyat Kerinci menjadi geram dan marah, utusan tentara Belanda yang dipimpin oleh Imam Marusa dan Imam Mahdi dicegat dibawah pimpinan Depati Parbo dari daerah Lolo dan Depati Agung dari daerah Lempur. Sedangkan Imam Mahdi dibiarkan hidup dan diperintah untuk kembali menghadap Belanda, peristiwa yang menimpa kedua orang utusan Belanda itu menyulut kemahan tentara Belanda, akibatnya tentara Belanda dengan sikap arogan dan watak imprealis mencari jalan untuk masuk dan menaklukkan serta menduduki alam Kerinci. Niat licik dan nafsu ingin menguasai dan menjajah kerinci telah tercium oleh hulubalan-hulubang se Tanah Kerinci.

Baca Juga Suku Melayu Tertua Itu Kerinci

Hj. Aida Rosnan, BA (Kepala SMA N 1 Sungai Penuh tahun 1970 – 1980an) mengemukakan suku Kerinci yang dikenal sejak zaman pra sejarah sebagai suku pemberani dan telah memiliki tingkat kebudayaan dan perdaban serta kecerdasan yang tinggi dengan semangat menyala dan pantang menyerah dengan gagah perkasa dengan senjata amunisi yang sagat terbatas menghadapi balatentara Belanda yang bersenjata lengkap. Perang pertama meletus tahun 1901 di Kawasan Renah manjuto Laskar Hulubalang Kerinci yang berjumlah 18 orang dipimpin Depati Parbo berhasil mematahkan serangan Prajurit Belanda yang berjumlah sekita 300 orang. Dengan semangat menyala dan pantang meyerah hulubalang Kerinci berhasil memukul mundur dan menewaskan puluhan tentara Belanda, tahun itu merupakan tahun dimulainya pertempuran hulubalang Kerinci dengan prajurit Penjajah Belanda.

Tokoh dan pemimpin perjuangan rakyat kerinci yang menonjol disaat itu adalah Depati Parbo bersama hulubalang dari berbagai negeri/dusun di alam kerinci bahu membahu menghadapi dan berjuang habis-habisan menghadapi kaum imprealisme Belanda. Di Ranah manjuto terjadi penyerangan yang dilakukan oleh pasukan tentara belanda. Pasukan belanda dari indrapura melewati Bukit Sitinjau Laut bersama pasukan belanda yang didatangkan dari Muko-Muko dipimpin Kapten Bolmar melakukan penyerangan terhadap markas pejuang alam kerinci yang dipimpin Panglima Perang Depati Parbo, kubu-kubu pertahanan dibangun pasukan Belanda disebelah Utara Renah Manjuto (Lempur).

Setelah bermufakat dengna Depati Agung, Depati Parbo mempersiapkan hulubalang yang gigih dan berani mati untuk menyongsong dan melakukan pertempuran hidup mati menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata lengkap dan modern. Setelah berjalan melewati rimba belantara yang ganas, Depati Parbo dan para pejuang beristirahat sambil mempersiapkan makanan untuk makanan sore, sebagian dari pejuang ada yang beristirahat melepas lelah, tanpa diduga tiba-tiba pasukan belanda mengepung dan telah berdiri dengan senjata lengkap dihadapan Depati Parbo dan para pejuang. Dengan kondisi yang belum siap para pejuang dengan gagah berani menghadapi serangan musuh, puluhan korban berjatuhan dari kedua belah pihak,beberapa opsir dan serdadi belanda tewas bersimbah darah. Dengan bekal semangat jihad yang tinggi dan dengan ilmu kebatinan dan ilmu kebal yang dimilikinya, setelah tiga hari bertempur Depati Parbo dan para pejuang mampu memukul mundur pasukan belanda, pada saat bertempur Depati Parbo dibantu oleh M Judah gelar Depati Santiudo Pamuncak alam, Haji Syukur, Depati nali, Seman Gelar Depati Nyato Negoro, H Mesir, H Ilyas, Mat Pekat dan H Yasin.

Ridwan, SN seniman dan budayawan Jambi asal Merangin ( Jambi 10:6:2012) menyebutkan pada pertempuran yang terjadi di Renah Men­juto dua orang hulubalang asal Pangkalan Jambu Perentak yakni H.Muhi (asal dusun baru Perentak) dan H.Maktam hulubalang asal Lempur yang menikah dengan warga pangkalan Jambu Perentak(Kerinci Rendah) ikut membantu perjuaangan yang dipimpin Depati Parbo, kedua hulubalang tersebut mampu membantu perjuangan Depati Parbo dalam menumpas serdadu Belanda yang ingin menguasai alam Kerinci.

Depati Parbo pejuang Kerinci yang dikenal gigih dan pantang menyerah itu sangat ditakuti oleh para serdadu Belanda, dengan kemampuan bela dirinya yang tinggi, Depati Parbo menghadapi serdadu dalam per­tempuran menggunakan tangan kosong dan mempraktekan ilmu bela diri silat, salah satu cirri khusus Depati Parbo dalam menghabisi musuh dengan cara memelintirkan kepala musuh kearah belakang, serangan Depati Parbo dilakukan tanpa diketahui oleh musuh, hal lain yang di­lakukan oleh Depati Parbo adalah membengkokkan ujung senjata api milik musuh hingga tidak dapat dipergunakan musuh.

Depati Parbo dilahirkan di Lolo sekitar 1839. Semasa mudanya ia dipanggil Kasib. Masa mudanya dihabiskan dengan merantau ke luar Kerinci yakni Batang Asai. Disana ia sempat berguru ilmu kenuragan kepada M. Judah atau Bapak Gulun, seorang dari sungai penuh yang ternyata memiliki gelar Depati Santiudo Pamuncak Alam. Selain ilmu silat, Kasib juga memperdalam agama darinya. Merasa belum cukup, ia sempat pula merantai ke Rawas dan Palembang dalam rentang tahun 1859-1862. Tingkah pola manusia yang semakin kompleks membuat gusar hati kasib. Setelah merenung beberapa waktu, niatnya mantap untuk menghilang dari peredaran. Dengan keyakinan hati yang kuat, ia daki bukit-bukit, hutan lebat diterabas. Sungai deras diseberanginya menuju keheningan tinggi. Gunung kunyit menjadi tempat baginya untuk sejenak menata batin sembari mendekatkan diri pada Tuhan. Setelah dirasa cukup, ia pun turun gunung menjadi sosok pendiam yang kemudian bukan hanya dikenal karena kebolehannya berpencak silat, namun juga kemampuannya menyembuhkan orang sakit. Tidak lama berselang, oleh sebab ditopang karena pengabdiannya, para tetua dusun Lolo menobatkan Kasib menjadi Depati Lolo, yang kemudian dikenal Depati Parbo.

Dikutip dari Buku Sejarah Keb-Alam-Kerinci



  Post Terkait


Upacara Sembah Muntaing

Upacara Sembah Muntaing

Berbicara tentang kerinci memang tak ada habisnya...

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Kerinci merupakan salah satu pusat peradaban...

Tabuh Larangan

Tabuh Larangan

Kerinci sejak zaman dahulu dikenal dengan...

Air Terjun Pancaro Rayo

Air Terjun Pancaro Rayo

Memang wajar jika Kerinci dijuluki sebagai negeri...

Danau Duo

Danau Duo

Danau Kerinci, Danau kaco, Danau Lingkat, masih...

Pesona Bukit Tabing

Pesona Bukit Tabing

Masih ada lagi yang menggoda, membuat ngiler,...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik