Sejarah Pecahnya Perang di Pulau Tengah Kerinci

Sejarah Pecahnya Perang di Pulau Tengah Kerinci


Robi Rusman | 2018-02-25, 13:15:05 WIB | 416 Views

Sejarah pecahnya perang di pulau tengah kerinci merupakan perang terbesar dan memakan waktu yang cukup lama serta menelan korban jiwa beratus ratus masyarakat tak berdosa terutama anak anak balita dan wanita lanjut usia. Catatan se­jarah menyebutkan pertempuran di Pulau Tengah memakan waktu lebih 6 bulan, dimulai pada bulan Mei 1903 dan berakhir November 1903.

Undangan Perang Pejuang Pulau Tengah Kerinci terhadap Belanda

Pertempuran antara pejuang Pulau Tengah dan Serdadu Belanda pada prinsipnya terjadi setelah diawali dengan undangan untuk ber­perang yang dlakukan oleh pihak Pejuang Pulau Tengah kepada pihak Belanda. Tokoh tokoh adat, hulubang serta masyarakat Pulau Tengah merasa sangat tersinggung atas sikap Belanda yang mengejek orang Pulau Tengah ”sebagai anak Betino Lolo”. Para pejuang dan masyarakat Pulau Tengah yang terdiri dari Dusun Baru, Koto Tuo dan Koto Dian sebelum mengundang Belanda berperang terlebih dahulu mengadakan rapat di Mesjid Tuo Pulau Tengah.

Baca Juga: Srikandi Kerinci Melawan Penjajah

Rapat dipimpin H.Ismail yang baru kembali dari Kedah-Malaya (sekarang dikenal sebagai Malaysia). H.Ismail dengan orasinya yang berapi-api membakar semangat masyarakat dan Pejuang Pulau Tengah agar berjuang hingga tetes darah penghabisan demi mempertahankan agama dan Tanah Air. Orang orang Kafir dan kaum Musrik yang ingin menjajah dan merampas kedaulatan Negeri harus Ditumpas melalui Perang Sabillihhah atau “melakukan “Jihad”.

Pihak Belanda yang menerima tawaran dan undangan berperang yang ditawarkan oleh Pejuang dan Hulubalang Tengah menyambut dingin tawaran itu, namun Overste Bense justru membalas surat dari para pejuang Pulau Tengahyang intinya meminta agar para pejuang Pu­lau Tengah agar meletakkan senjata dan bekerja sama dengan Belanda. Akan tetapi pihak pejuang tidak menggubris surat yang disampaikan oleh Overste Bense dan H.Ismail yang saat itu memimpin para pejuang kembali membalas surat yang intinya menolak permintaan Belanda, rakyat dan Pejuang Pulau Tengah siap mempertaruhkan jiwa dan raga demi menjaga dan melindungi negeri Pulau Tengah dan alam Kerinci.

Latar Belakang Perang di Pulau Tengah

Mendengar jawaban itu Belanda mempersiapkan tentaranya untuk bersiap menyerang Pulau Tengah. Sebuah catatan menyebutkan Pihak Belanda memberikan hadiah kepada 2 orang penduduk pribumi untuk membantu Belanda menyelidiki jalan yang baik untuk menyerang Pulau Tengah. Perjalanan dillakukan dari dua arah yakni dari arah utara melalui jalan darat melintasi kumun –Semerap langsung menuju sasaran. Dari arah timur melalui jalur sungai menggunakan perahu melintasi Danau Kerinci.

Pertempuran di Pulau tengah antara para hulubalang dan pejuang dengan pihak Belanda memiliki beberapa latar belakang yang komplit dan berbeda dengan kisah per­tempuran di daerah lainnya. Peperangan yang terjadi di daerah Pulau tengah antara lain disebabkan karena para pejuang di Pulau tengah merasa terhina oleh ejekkan serdadu Belanda, ejekkan inilah yang merupakan salah satu fac­tor pemicu utama yang mendorong para hulubalang dan masyarakat merasa tertantang dan ingin membuktikan siapa yang lebih jantan dari mereka. Penyebab lain marahnya orang Pulau tengah karena Belanda karena telah memerangi rakyat Kerinci dan ingin menjajah bumi Alam Kerinci, banyaknya korban yang berjatuhan di medan pertempuran di sejumlah dusun dusun di Alam Kerinci, serta perbedaaan agama merupakan pemicu yang ikut menyulut api peperangan di Pulau Tengah. Para hulubalang dan tokoh masyarakat Pulau tengah yang tergabung dalam kaum empat jenis yang saat itu berasal dari dusun baru, dusun koto tuo dan dusun koto Dian melakukan rapat yang dipusatkan di dalam masjid kuno pulau tengah dengan dipimpin Haji Ismail, menghasilkan 3 keputusan penting yakni:

  1. Hulubalang dan pejuang serta masyarakat Pulau Tengah mengundang Belanda untuk berperang di Pulau Tengah
  2. Memerintahkan semua komponen masyarakat termasuk Ulama, Tokoh adat, Hulubalang, para pemuda, serta segenap masyara­kat yang berada di Pulau Tengah untuk angkat senjata dengan terlebih dahulu melakukan persiapan untuk keperluan perang antara lain menyiapkan senjata pedang, senjata api rakitan, keris,jerat lenting, membangun Benteng pertahanan, mem­persiapkan perbekalan berupa makanan dan membuat lubang lubang perlindungan bagi wanita, anak anak dan manula.
  3. Seluruh masyarakat di Pulau Tengah yang meliputi masyarakat 3 Dusun beserta para Hulubalang,Tokoh adat , Ulama serta anak jantan dan anak betino mengikrarkan Sumpah sanggup berperang dengan Belanda hingga tetes darah terakhir.

Dari arah Benteng Lubuk Pagar para pejuang dengan leluasa menjebak serdadu Belanda dan dengan taktik perang gerilya berhasil memukul mundur musuh. Sementara senjata “Jerat Lenting “ yang terbuat dari bambu dengan cara membengkokkan ujungnya sampai ke tanah dan diberi tali, namun ketika musuh mendekat, maka talinya dilepaskan dan ujung bambu yang diberi senjata akan melenting dan mengenai musuh. Senjata lentingan ini menurut tokoh masyarakat se­tempat mampu menewaskan puluhan serdadu Belanda. Pihak pejuang dan hulubalang juga melakukan pembangunan benteng pertahanan dari bambu yang disusun batu dan tanah yang diberi lubang tempat mengintai musuh,di sepanjang Sungai Buai dan dipinggiran danau Kerinci dipasang ranjau dari bambu runcing, dan ternyata pertahanan ini tidak dapat diterobos oleh serdadu Belanda, puluhan serdadu serdadu Belanda tewas dengan mayat bergelimpangan di sepanjang Sungai Buai yang muaranya berada di pinggiran Danau di kawasan dusun baru.

Tanggapan Belanda terhadap undangan perang dari hulubalang Pejuang Pulau Tengah Kerinci

Dalam sejarah perjuangan dan pertempuran yang terjadi di basis-basis perjuangan di nusantara, hanya basis perjuangan di Pulau Tengah Alam Kerinci yang agak “uniek”. Pertempuran yang terjadi di daerah ini diawali oleh “Undangan Perang” yang disampaikan tokoh pejuang-Hulubalang dan disampaikan secara khusus oleh utusan khusus Panglima Perang Pulau Tengah H.Ismail yaitu Ali Akbar Gelar Rio Indah dan Haji Iskak, berisikan “Rakyat Pulau Tengah tidak mau tunduk “ kepada Pemerintahan Belanda, dan siap untuk melakukan perang di Pulau Tengah.

Surat yang dibawa utusan khusus (Kurir) dibawa ke Rawang dengan maksud diberikan kepada Tuanku Regen yang oleh pejuang dianggap telah berkhianat terhadap perjanjian Sitinjau Laut, namun pada saat surat akan diserahkan di Rawang, ternyata Tuanku Regen sedang berada di Daerah Semurup untuk mengatur siasat memadamkan api perlawanan rakyat di Siulak.Di semurup surat undangan Perang disampaikan langsung kepada Tuanku Regen, oleh Tuangku Regen surat tersebut selanjutnya diserahkan kepada pihak penguasa Belanda, dan pihak Belanda yang menerima surat undangan Perang merasa heran, sebab selama ini jika Belanda ingin menduduki suatu daerah pihak Belanda langsung melakukan penyerangan, tapi kali ini justru mereka yang diundang untuk melakukan pertempuran.

Menanggapi surat Undangan perang yang disampaikan Panglima Perang Pulau Tengah, awalnya “ Overste Bengse” menanggapi secara dingin, bahkan pihak Belanda justru membalas surat yang intinya”agar masyarakat Pulau Tengah untuk tunduk kepada Belanda dan segera menyerahkan semua persenjataan kepada pihak Belanda. Namun setelah surat balasan dari Belanda diterima oleh Haji Ismail, kembali H.Ismail menyurati Belanda yang intinya ”Pulau Tengah tidak akan meletakkan senjata, Pulau Tengah tidak akan menyerah kepada Belanda, Rakyat Pulau Tengah siap berperang demi mempertahankan tanah air.

Mendapat jawaban dari H.Ismail, maka pihak Belanda mengirimkan pasukan dan perlengkapan perang untuk menyerang Pulau Tengah, Belanda memperalat dua orang penduduk pribumi untuk menjadi penunjuk jalan untuk melakukan penyerangan ke Pulau Tengah, kedua penduduk pribumi itu diperalat dengan di iming imingi akan diberi hadiah oleh Belanda.

Perang di Pulau Tengah yang membara

Iskandar Zakaria, sejarawan dan budayawan Alam Kerinci menge­mukakan bahwa pada tanggal 27 Mei 1903, Belanda mulai melancarkan serangan dari dua arah dan jurusan secara serentak. Peperangan di kawasan ini berlangsung seru, sangat sulit bagi Belanda untuk menem­bus benteng pertahanan rakyat dan pejuang Kerinci, dengan kekua­tan maksimal Belanda terus menggempur pertahanan para pejuang namun dapat dipatahkan. Puluhan bala tentara Belanda tewas akibat jerat Lentingan yang dipasang pejuang dan rakyat dibelakang lawang (pintu masuk) saat memasuki lawang yang terbuka sedikit dan Belanda berkumpul di daerah itu, dan tanpa mereka duga, para pejuang yang terdiri dari hulubalang,alim ulama dan rakyat memutuskan tali penahan lentingan, akibatnya pasukan penjajah Belanda tewas terhempas oleh lentingan bambu. Karena merasa kewalahan pasukkan Belanda yang bersenjata lengkap pontang panting mundur menyelamatkan diri mas­ing masing menuju titik aman. Meski telah jatuh banyak korban namun pihak Belanda tetap keras kepala dan berusaha untuk menaklukkan Pulau Tengah, Belanda kembali mendatangkan bala bantuan dan per­senjataan modern terdiri dari meriam, bayonet dan senjata senapang laras panjang, bersama bala bantuan yang didatangkan dari Padang, Belanda untuk kedua kalinya kembali melancarkan serangan dengan sasaran Lubuk Pagar menuju Dusun Baru dan kearah Benteng Telaga. Pada jam 6.30 pagi Belanda melakukan penyerangan ke Benteng Telaga, kali ini serangan Belanda dapat dilumpuhkan oleh para hulubalang dan para pejuang, dan menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak rakyat dan pejuang telah gugur 3 orang.

Keesekoan harinya untuk membalas kekalahan kedua, Serdadu Belanda kembali menggempur markas benteng pertahanan pejuang.saat pagi pagi buta sekitar jam04.00-06.30. Belanda melakukan serangan fajar dan menimbulkan korban yang sangat besar dari pihak Belanda, lebih 300 orang serdadu Belanda tewas bergelimpangan, sementara dari pihak pejuang dan rakyat tercatat 31 orang yang gugur.

Belanda dengan keserakahan dan akal liciknya baru berhasil meram­pas dan menduduki benteng Telaga setelah Belanda berhasil menewas­kan pimpinan perang “Bilal Sengak” beserta 2 orang Hulubalang yakni H.Abdul Kasim dan H.Bilal Pakih, ketiga orang tokoh pejuang ini gugur akibat terkena peluru yang ditembakan musuh. Pasukan Belanda kem­bali melakukan serangan di Kota putih yang merupakan pintu gerbang masuk ke Pulau Tengah, para pejuang dengan gigih sampai tetes darah terakhir dengan kekuatan yang ada berusaha mempertahankan Kota Putih, dan dalam pertempuran selama satu hari jatuh 2 orang korban yakni hulubalang “Malin Malelo dan H.Yakin”, Pasukkan Belanda setelah mampu menewaskan kedua orang hulubalang melanjutkan perjalan ke gunung raya, mereka melewati dusun Benik-dusun Jujun dengan maksud menggempur markas pertahanan rakyat di sebelah utara.

Di pihak lain pasukan Belanda yang datang dari jurusan Lempur, dan Semurup naik ke Bukit Betung dan sebagian dari pasukan Belanda melanjutkan perjalanan ke Gunung Raya dan bergabung dengan pasu­kan yang dating dari Jujun, beberapa diantaranya menuju sungai Buai, dan di daerah ini terjadi pertempuran, pada pertempuran ini seorang pemuda Mat Saleh dan H.Husin dengan pedang terhunus melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda secara membabi buta.

Peperangan di Sungai Buai berlangsung selama 3 jam, pada per­tempuran ini puluhan serdadu Belanda tewas ditangan para hulubalang dan pejuang, meskipun pada pertempuran itu Mat Saleh gugur sebagai syuhada bangsa. Di daerah Pulau Tengah pertempuran berlangsung selama 3 bulan, pihak serdadu Belanda merasa kewalahan menghadapi para pejuang asal Pulau Tengah Kerinci, pada pertempuran ini ratu­san serdadu Belanda dan 4 orang Opsir Belanda Tewas, pada masa pertempuran antara Belanda dan pejuang Pulau Tengah tercatat nama seorang Hulubalang bernama “Rio Indah” yang bertugas sebagai kurir besar keluar dusun.

Melihat Kezaliman dan kebiadaban yang dilakukan oleh serdadu Belanda, para alim ulama, tokoh tokoh adat menunjukkan sikap per­lawanan, mereka dengan semangat jihad Fisabilillah menghadapi Be­landa, pertempuran sempat terhenti karena pihak Belanda menunggu kedatangan bala bantuan dari Padang, sementara hulubalang, rakyat termasuk warga/tokoh dari Siulak (Depati Intan), Rawang dan Kerinci bahagian Hulu dengan siap siaga dan persenjataan pedang dan senjata sederhana mengintai kedatangan pasukan Belanda di puncak “Bukit Gedang”. Pada saat yang sama, di “Bukit Sitinjau Laut dan Ranah Manjuto terjadi pertempuran antara Belanda dan pasukan yang dipimpin Depati Parbo dan Depati Agung,dengan taktik Perang Gerilya.

Belanda mengirimkan sekitar 1000 orang pasukan dari padang, akan tetapi pasukan ini tak pernah sampai di Kerinci karena berhasil dipukul miundur para pejuang. Namun Belanda tidak pernah berputus asa, karena pada tahap berikutnya Belanda meminta bantuan ke daerah Jambi, dan karena pertahanan pejuang di Temiai tidak terlalu kuat dan tidak terjaga rapi, maka dengan leluasa sekitar1500 orang serdadu Belanda memasuki zona pertempuran di Alam Kerinci yang dipusatkan di Pulau Tengah.



  Post Terkait


Srikandi Kerinci Melawan Penjajah

Srikandi Kerinci Melawan Penjajah

Dalam setiap periode perjuangan di setiap daerah...

Perang di Renah Manjuto

Perang di Renah Manjuto

Keberhasilan Depati Parbo dalam memukul mundur...

Perjuangan Rakyat Kerinci

Perjuangan Rakyat Kerinci

Kerinci sepanjang sejarah dikenal sebagai daerah...

Upacara Sembah Muntaing

Upacara Sembah Muntaing

Berbicara tentang kerinci memang tak ada habisnya...

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Kerinci merupakan salah satu pusat peradaban...

Tabuh Larangan

Tabuh Larangan

Kerinci sejak zaman dahulu dikenal dengan...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik