Srikandi Kerinci, Perjuangan Hj. Fatimah Melawan Penjajah dipimpin Depati Parbo

Srikandi Kerinci Melawan Penjajah

Keterangan Gambar : Ilustrasi gambar



Robi Rusman | 2018-02-21, 17:22:25 WIB | 375 Views

Dalam setiap periode perjuangan di setiap daerah selalu muncul sosok tokoh Srikandi yang rela ikut berjuang mengangkat senjata meng­hadapi musuh. Pada masa perjuangan secara nasional dikenal tokoh pejuang wanita seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan di Bumi alam Kerinci pada masa awal perjuangan menghadapi imprealis Belanda juga memiliki sosok srikandi yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk merebut kemerdekaan dan Beliau adalah Hj. Fatimah.

Hj. Fatimah adalah Seorang Pejuang Srikandi Kerinci saat perang melawan penjajahan Belanda dan merupakan saudara sepupu Kasib (Depati Parbo). Beliau lahir di Desa Lolo Kecil, mempunyai suami bernama Canai Gelar Orang Tuo Lingkat yang berasal dari Lempur dan mereka tidak memiliki anak. Suatu saat beliau meminta suaminya untuk menikahi saudara dekatnya bernama Tampung orang Lolo Gedang dengan tujuan agar mendapatkan keturunan sebagai penyambung silsilah keluarga, dan keluarga ini hidup rukun dan damai dalam suasana kekeluargaan yang sangat terkenal.

Dengan istri keduanya mempunyai anak tiga orang: Tilong berkembang di Lempur, Bangua berkembang di Lolo Gedang dan Nyelai berkembang di Lolo Hilir.

Pada tahun 1902 suami beliau sakit (Canai Gelar Orang Tuo Lingkat ) dan dirawat di Lempur, alasan dirawat di Lempur karena pada masa itu di Lolo kondisinya tidak aman karena perang yang terus dikumandangkan dan di Lolo Gedang merupakan Pusat Pertahanan (Benteng) saat perang menghadapi Belanda. Pengungsian ke Dusun Lempur Tengah adalah pilihan karena tentara Belanda masuk ke Kerinci lewat Koto Limau Sering yang dari Tapan, Muaro Emat yang dari Bangko, dan tanpa diketahui Belanda juga menyerang dari Muko-muko melalui Lempur.

Namun tragis, pada saat itu tempat Suaminya Hj. Fatimah dirawat tiba-tiba diserang Belanda dan Suami beliau pun tertembak Belanda dan meninggal dunia di tempat kejadian. Banyak penduduk tidak bersalah ikut jadi korban keganasan tentara belanda.

Mendapat berita yang tidak pernah beliau bayangkan tersebut membangkitkan kebencian dan semagat juang Hj. Fatimah bersama pendekar-pendekar lain. Beliau bergabung dengan para Hulubalang Kerinci dibawah pimpinan Depati Parbo dengan menggunakan senjata tradisional. Hj. Fatimah dengan tekad yang membara dan dendam kepada Belanda ikut mengatur siasat perang. Beliau tidak segan-segan berada di garda depan menyongsong tentara belanda.

Dalam pertempuran yang terjadi di dusun Lolo dan Lempur, pasukkan Belanda yang berjumlah 500 orang berangkat menuju negeri Lolo, dan disebuah dusun yang bernama Lolo kecil pa­sukan Hulubalang yang dipimpin Panglima Perang Depati Parbo dengan taktik gerilya telah menunggu pasukkan Belanda yang bergerak maju menuju negeri Lolo. Pertempuran sengit tidak terelakkan, pasukan cu­kup berimbang, para pejuang dan penjajah saling berhadapan satu lawan satu, meski diantara pasukan Belanda terdapat pasukan bayaran dari bangsa sendiri, sehingga dalam kondisi seperti ini para pejuang tanpa pandang bulu memerangi prajurit Belanda.

Baca juga: Pecahnya Perang di Renah Manjuto

Dengan semangat pantang menyerah, Depati Parbo dengan gagah berani mampu menewaskan berlusin-lusin pasukan belanda dengan tangannya sendiri. Pertempuran di Dusun Lolo Kecil berlangsung selama 3 hari. Sengitnya pertempuran memaksa para wanita, orang tua dan anak-anak diungsinkan ke bukit-bukit dalam wilayah kubu pertahanan. Melihat darah para pejuang yang membasahi Bumi Ranoh Kincay membuat geram Srikandi Kerinci yaitu Hj. Fatimah.

Perempuan pemberani dengan sikap waspada bersenjata tombak di pintu gerbang dusun Lolo mengintai pasukan Belanda, saat memasuki gerbang Lolo Hj. Fatimah dengan semangat menyala-menyala dengan hanya menggunakan senjata tombak menyerang pasukan Belanda. Keberaniannya tidak sia-sia, karena dengan tangannya Hj. Fatimah mampu menewaskan 4 orang pasukan belanda, bahkan seorang perwira belanda berpangkat Letnan berhasi ditewaskannya.

Melihat 4 orang pasukan Belanda berhasil ditewaskan oleh seorang patriot wanita, membuat pasukan Belanda menjadi beringas, dengan membabi buta mereka memuntahkan peluru kepada Hj. Fatimah sehingga beliau gugur. Hj. Fatimah wafat secara syahid, jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum keluarga di Dusun Lolo.

Sumber: Buku Sejarah Keb-Alam-Kerinci, http://tasman1959.blogspot.co.id/



  Post Terkait


Perang di Renah Manjuto

Perang di Renah Manjuto

Keberhasilan Depati Parbo dalam memukul mundur...

Perjuangan Rakyat Kerinci

Perjuangan Rakyat Kerinci

Kerinci sepanjang sejarah dikenal sebagai daerah...

Upacara Sembah Muntaing

Upacara Sembah Muntaing

Berbicara tentang kerinci memang tak ada habisnya...

Suku Kerinci

Suku Kerinci

Kerinci merupakan salah satu pusat peradaban...

Tabuh Larangan

Tabuh Larangan

Kerinci sejak zaman dahulu dikenal dengan...

Air Terjun Pancaro Rayo

Air Terjun Pancaro Rayo

Memang wajar jika Kerinci dijuluki sebagai negeri...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik