Tari Asyeik Kerinci, Seni Budaya Kerinci

Tari Asyeik Kerinci


Robi Rusman | 2017-12-21, 16:51:00 WIB | 460 Views

Tari asyeik merupakan sebuah tarian purba yang telah tumbuh sejak zaman purba. Tarian ini telah ada saat nenek moyang suku kerinci menganut kepercayaan animisme, dinamisme dan tarian ini merupakan sebuah tradisi megalitik yang masih menganut kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang masyarakat pada masa prasejarah. Perlengkapan tarian ini berupa sesajian nasi putih, lepat, nasi kuning, nasi hitam, lemang, bunga tujuh warna, warna sembilan, sedangkan peralatan yang digunakan antara lain aria pinang, keris, kain tenunan kerinci, cembuing putih, piring putih, dalam sesajian harus ada satu ekor ayam hitam atau ayam putihm ayam panggang, dan kelapa tumbuh.

Tarian yang dilakukan pada malam hari ini memiliki beberapa episode yakni acar "Nyerau" atau "Nyaho", "Masouk Bumoi", "Mujoi Gureu", "Minotak Brkeh (minta berkah)" dan "Magelih Sajin (Memberikan sesajian)". Ritual Asyeik pada zaman dahulu dilakukan selama satu minggu, berbagai persiapan dilakukan oleh dukun atau "Bilian Salih", orang yang berobat (keluarganya). Pada tingkatan proses akhir roh-roh nenek moyang akan memasuki sukma pengunjung atau orang yang berobat, saat roh nenek moyang memasuki jiwa maka tubuh mereka menjadi ringan, mereka dapat memanjat baatng bambu, menari diatas pecahan kaca. 

Tradisi upacara tari asyeik juga dilengkapi alat musik tradisional seperti rebana, gong, seruling bambu. Di daerah Kecamata Siulak Kabupaten Kerinci Tari Asyeik memiliki keberagaman antara lain: Asyeik Niti Mahligai, Asyeik Mandi di Taman, Asyeik Ngayun Luci, Asyeik Mahligai Kaco, Ayeik Nyabung. Walaupun memiliki berbagai pola dan perbedaan akan tetapi kebudayaan ini berasal dari satu akar rumpun kebudayaan tradisional megalitik.

Di Daerah Sungai Penuh penyebaran Tari Asyeik yaiut di Kumun, Koto Lolo, Koto Bento, Koto Tengah, Dusun Empih, Kelurahan Sungai Penuh, Pondok Tinggi, Dusun Baru dan sekitarnya. Tarian ini juga berkembang di kawasan masyarakat adat Tigo Luhah Tanah Sekudung Kecamat Siulak, Masyarakat Tigo Luhah Semurup, masyarakat persekutuan adat Kubang dan wilayah desa Semerah dan Pondok Beringin Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci.

Saat ini acara Asyeik tidak lagi dijadikan sebagai acara pemujaan atau persembahan terhadap roh-roh nenek moyang , akan tetapi telah dikreasikan menjadi seni tari pertunjukan untuk memperkaya khasanah kebudayaan Alam Kerinci. Sebuah kekhawatiran muncul karena cepat atau lambat upacara tradisional ini akan lenyap dimakan zaman, dilain pihak pengaruh modernisasi dan globalisasi di segala sektor dalam kehidupan masyarakat membuat masyarakat kerinci lebih berpikir praktis, kritis dan logis, kebudayaan yang telah dilakukan secara turun temurun ikut terambah oleh kemajuan zaman, satu persatu peninggalan kebudayaan masa lampau akan terkubur dan digantikan ileh kebudayaan baru.



  Post Terkait


Gunung Kunyit

Gunung Kunyit

Salah satu hutan yang berada dalam kawasan Taman...

Kulit Manis Kerinci

Kulit Manis Kerinci

Herbal yang terpenting dan terkenal di Kerinci...

Air Panas Semurup

Air Panas Semurup

Bukan hanya kaya akan air terjun, danau maupun...

Rawa Bento

Rawa Bento

Jangan lupa mampir di Rawa Bento kalau ke...

Kebun Teh Kayu Aro

Kebun Teh Kayu Aro

Layak Karpet Hijau yang terbentang di kaki Gunung...

Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh

Danau Gunung Tujuh, Pesona Keindahan di Danau...

Leave comment







kami pasti memberikan pelayanan yang terbaik